Dynaplast Go Privat, Saham Ditawarkan Rp 4500 Per Lembar

TEMPO Interaktif, Jakarta – - Emiten PT Dynaplast Tbk (DYNA) berancang-ancang go private (delisting) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan plastik itu menawarkan 33,25 persen saham perseroan dan publiknya, atau sebanyak 104.635.793 lembar saham dengan harga Rp 4.500 per saham. “Kami target Juli nanti dieksekusi” kata Presiden Direktur Dynaplast Tony Hambali, Senin (25/4).Merujuk pada prospektus perusahaan, secara terperinci harga penawaran itu adalah 20 persen premium dari harga perdagangan tertinggi atas saham di BEI dalam jangka waktu 90 hari terakhir sebelum pengumuman rencana go private pada 25 Maret 2011. Jangka waktu terakhir itu adalah 24 Agustus 2010-22 November 2010 sebesar Rp 3.750 per saham acuan dan Rp 4.500 harga per saham penawaran.Tony menjelaskan, alasan Go Privat karena saham perseroan saat ini tidak aktif diperdagangkan dan tidak likuid. Ini disebabkan jumlah saham yang dipegang oleh pemegang saham publik saat ini relatif kecil, yakni sekira 276 pihak. Perseroan pun telah menerima permintaan secara lisan dan tertulis tiga pemegang saham publik yang ingin menjual saham mereka.Rencana Go Privat akan dijadwalkan digelar pada 27 April 2011 pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Saham-saham yang akan dibeli pada saat penawaran tender saat ini dimiliki oleh UOB Kay Hian Pte Ltd sejumlah 27.410.000 lembar saham atau sebesar 8,71 persen dari seluruh modal disetor dan ditempatkan perseroan.Kemudian saham yang dimiliki masyarakat, masing-masing dengan dengan kepemilikan di bawah lima persen sebesar 77.225.793 lembar saham atau sebesar 24,54 persen dari seluruh modal disetor dan ditempatkan perseroan. Menurut penilai independen dari Jantor Jasa Penilai Publik Martokoesoemo, Prasetyo, harga wajar per saham Dynaplast sebesar Rp 3.181 rupiah.Namun Tony berkukuh kalau saham yang ditawarkan pihaknya sebesar Rp 4.500 sudah wajar. Saat ini saja, kata dia, harga saham di pasar stock BEI sebesar Rp 3.500 per saham.”Kalau pada RSUB nanti tidak ada yang sepakat, antisipasi terburuk ya tetap kita tawarkan dengan harga itu hari berikutnya,” kata dia menegaskan. MUHAMMAD TAUFIK

July 13th 2011